Tingkat X Tingkat XI Tingkat XII
Tip dan Trik Software Tutorial KKPI
Jawa Pos Kompas Surya Wanita Opini Tausyiah
Khas Nganjuk Kuliner Nusantara Wisata Nusantara
SMKN 1 Nganjuk SMK PGRI 1 Kediri SMK PGRI 1 Nganjuk SMK Muh. 1 Nganjuk SMAN 1 Nganjuk SMAN 2 Nganjuk SMAN 1 Kediri
Sunday, June 6, 2010 | 9:06 AM | 0 Comments

Dishub Jatim Perketat Seleksi Sopir Teladan

* Minggu, 6 Juni 2010 Surya.co.id

Surabaya - Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan (Dishub LLAJ) Jawa Timur memperketat proses seleksi Sopir Teladan 2010.

“Kami akan memperketat proses seleksi menyusul mulai diberlakukannya Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” kata Kepala Bidang Perhubungan Darat Dishub LLAJ Jatim, Sumarsono, di Surabaya, Minggu.

Menurut dia, saat ini ada 50 sopir dari 38 kabupaten/kota hasil pembinaan Dishub LLAJ Jatim yang akan mengikuti ajang seleksi awak kendaraan umum teladan (AKUT) tingkat provinsi.

Mereka akan menjalani serangkaian ujian AKUT di Surabaya pada 7-10 Juni 2010 dengan beberapa materi, di antaranya pemahaman UU Nomor 22/2009.

Selain itu mereka akan diuji ketahanan mengemudi, teknik mengendarai kendaraan bermotor, ‘outbound’, dinamika kelompok, psikologi, kesehatan, dan jasa raharja. Tim penguji berasal dari Dishub LLAJ, Polda, Jasa Raharja, lembaga independen, dan sejumlah lembaga lain di Jatim.

Tak cukup itu saja, para peserta juga harus bisa memberikan pemahaman kepada pengemudi lainnya untuk selalu tertib dalam berkendara guna menekan angka kecelakaan lalu lintas.

Sumarsono menambahkan, mereka yang terpilih sebagai juara 1 dan juara 2 sopir teladan tingkat Jatim akan diikutkan dalam pemilihan sopir teladan tingkat nasional yang akan digelar di Jakarta pada 1-5 Agustus mendatang.

“Kami berharap ketatnya proses seleksi ini, wakil Jatim dapat menggondol predikat sopir teladan ingkat nasional,” katanya.ant
Read more

Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Adaptasi Perubahan Iklim

Oleh Toto Subandriyo

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2010 yang mengusung tema Banyak Spesies, Satu Planet, Satu Masa Depan (Many Species, One Planet, One Future) perlu kita jadikan momentum untuk kontemplasi dan berziarah kepada hati nurani. Beberapa tahun terakhir rasanya kita kesulitan memahami dan menerjemahkan bahasa dan sabda alam.

Peradaban yang telah berjalan secara arif berabad-abad kini terusik. Sebut saja satu contoh "pranoto mongso" yang selama ini menjadi pegangan para petani kita dalam bertani. Dulu, nenek moyang kita memercayai betul bahwa Desember adalah bulan gedhe-gedhene sumber. Januari disebutnya sebagai "hujan sehari-hari". Artinya, pada Desember-Januari intensitas curah hujan mencapai puncaknya. Banjir besar biasanya terjadi pada kurun waktu itu.

Namun, beberapa tahun terakhir "pakem" tersebut terasa jungkir balik. Tahun lalu, misalnya, meski Desember hampir berakhir, curah hujan masih sangat sedikit. Sebaliknya, akhir Maret 2010 lalu secara kasatmata kita menyaksikan banjir terburuk selama beberapa dekade terakhir telah menusuk jantung ketahanan pangan republik.

Curah hujan tinggi ditambah kondisi kerusakan parah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat, telah merendam puluhan ribu hektare tanaman padi di Kabupaten Karawang yang kita kenal sebagai salah satu lumbung beras negeri ini. Pada waktu bersamaan, masih di negeri ini, bencana kekeringan mengancam warga Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 31.000 keluarga di 56 desa kabupaten tersebut terancam kelaparan menyusul kegagalan panen seluas 80.000 hektare sawah tadah hujan dan jagung pada musim tanam 2009/2010.

Bukan hanya berhenti di situ, pada pertengahan hingga akhir Mei lalu, saat musim kemarau seharusnya sudah tiba, banjir besar justru melanda beberapa daerah. Salah satu di antaranya daerah di sepanjang DAS Bengawan Solo, seperti Kabupaten Bojonegoro, Ngawi, dan sekitarnya. Peringatan siaga satu terpaksa disampaikan kepada masyarakat karena air Bengawan Solo meluap.

Antroposentrisme

Belum lama berselang Perserikatan Bangsa-Bangsa pernah memublikasikan laporan bertajuk Bersama Memerangi Dampak Perubahan Iklim dalam Sebuah Dunia yang Terpenggal. Laporan tersebut, antara lain, menyatakan bahwa aktivitas manusia merupakan penyebab utama perubahan iklim. Atas nama pembangunan ekonomi, atas nama perang terhadap kemiskinan, masyarakat menjadi sangat permisif terhadap tindak perusakan lingkungan.

Pendekatan pembangunan yang kita tempuh selama ini telah menyebabkan hancurnya sebagian besar hutan alami (original forest), mengeringnya setengah lahan basah dunia, menguras tiga perempat dari seluruh stok ikan, serta memancarkan begitu banyak gas panas yang menyebabkan pemanasan bumi. Pendekatan pembangunan yang kita tempuh tersebut telah mempercepat laju kepunahan berbagai spesies seribu kali lebih cepat dari kondisi normal (http://www.unep.org).

Sebuah literatur menyebutkan bahwa laju perusakan hutan (deforestasi) di republik ini besarnya ekuivalen dengan enam kali luas lapangan sepak bola per menit. Deforestasi yang berlangsung masif tersebut telah mengakibatkan lebih dari 59,3 juta hektare hutan kita rusak berat. Keanekaragaman hayati (biodiversity) yang selalu kita banggakan hanya tinggal kidung kenangan.

Masifnya laju deforestasi tersebut tidak lepas dari paham antroposentrisme yang telah merasuk jauh pada pola hidup masyarakat kita. Menurut filsuf Aristoteles, paham antroposentrisme ini memandang bahwa tumbuh-tumbuhan dan tanaman di bumi ini disediakan untuk binatang, dan binatang disediakan untuk manusia. Cara pandang seperti ini telah menempatkan alam sebagai sumber eksploitasi, manusia berlomba-lomba menaklukkan dan mendominasi alam.

Semestinya kita renungkan kembali konsep ekologi-dalam (deep ecology) yang diperkenalkan Fritjof Capra (2001). Dengan arif Fritjof Capra mengingatkan bahwa dunia ini bukanlah kumpulan objek-objek yang terpisah, tetapi lebih merupakan satu kesatuan jaringan yang saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain secara fundamental. Karena itu, sudah semestinya pembangunan dilaksanakan tanpa ada yang dirugikan, baik manusia maupun alam. Pembangunan untuk kesejahteraan manusia dijalankan secara berkelanjutan tanpa harus merusak alam.

Adaptasi

Bagaimanapun kita harus melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim di berbagai sendi kehidupan. Salah satu sektor yang paling merasakan dampak negatif perubahan iklim ini adalah sektor pertanian. Perilaku iklim yang sulit diprediksi ini akan membawa kerugian finansial yang sangat tinggi bagi para petani. Greenomics Indonesia pernah memproyeksikan besarnya kerugian yang diderita petani di Jawa akibat perubahan iklim mencapai Rp 136,2 triliun per tahun (Greenomics Indonesia, 2008).

Jika tidak ada inovasi teknologi produksi yang signifikan, pada 2020 nanti sistem produksi pertanian akan membutuhkan 17 persen air lebih banyak daripada yang sekarang (66 persen). Karena itu, riset teknologi pertanian harus mengupayakan benih tanaman pangan yang selain mampu berproduksi tinggi, berumur genjah, namun juga harus mampu beradaptasi dengan baik pada kondisi tanah dan iklim suboptimal (terutama tahan genangan, kekeringan, dan salinitas tinggi).

Berbagai macam benih berumur genjah yang umumnya masih dalam bentuk galur-galur benih perlu segera dirilis dan diintroduksikan kepada masyarakat menyusul varietas yang selama ini sudah ada, seperti varietas Inpari dan Silugonggo. Begitu pula benih padi tahan genangan, tahan kekeringan, serta varietas toleran salinitas tinggi.

Perbaikan cara dan waktu pengolahan tanah dan pengelolaan irigasi juga perlu perbaikan. Selama ini umumnya petani baru melakukan pengolahan tanah ketika air sudah melimpah. Untuk mengejar musim tanam, sawah harus diolah secepat mungkin dengan cara mekanisasi.

Penyebaran informasi prakiraan iklim hingga ke daerah, pemetaan wilayah rawan kering dan banjir, pemahaman terhadap informasi prakiraan iklim/musim, serta penguatan sistem kelembagaan petani dalam penyampaian informasi prakiraan iklim, perlu dilakukan dengan serius. Melalui berbagai upaya adaptasi ini diharapkan kita mampu merajut kembali masa depan dalam satu planet bumi yang telah sarat beban ini.

*) Toto Subandriyo, alumnus IPB dan MM-Unsoed, kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kab. Tegal, Jateng.


>>> opini@jawapos.co.id Sabtu, 5 Juni 2010
Read more

Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Adaptasi Perubahan Iklim

Oleh Toto Subandriyo

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2010 yang mengusung tema Banyak Spesies, Satu Planet, Satu Masa Depan (Many Species, One Planet, One Future) perlu kita jadikan momentum untuk kontemplasi dan berziarah kepada hati nurani. Beberapa tahun terakhir rasanya kita kesulitan memahami dan menerjemahkan bahasa dan sabda alam.

Peradaban yang telah berjalan secara arif berabad-abad kini terusik. Sebut saja satu contoh "pranoto mongso" yang selama ini menjadi pegangan para petani kita dalam bertani. Dulu, nenek moyang kita memercayai betul bahwa Desember adalah bulan gedhe-gedhene sumber. Januari disebutnya sebagai "hujan sehari-hari". Artinya, pada Desember-Januari intensitas curah hujan mencapai puncaknya. Banjir besar biasanya terjadi pada kurun waktu itu.

Namun, beberapa tahun terakhir "pakem" tersebut terasa jungkir balik. Tahun lalu, misalnya, meski Desember hampir berakhir, curah hujan masih sangat sedikit. Sebaliknya, akhir Maret 2010 lalu secara kasatmata kita menyaksikan banjir terburuk selama beberapa dekade terakhir telah menusuk jantung ketahanan pangan republik.

Curah hujan tinggi ditambah kondisi kerusakan parah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat, telah merendam puluhan ribu hektare tanaman padi di Kabupaten Karawang yang kita kenal sebagai salah satu lumbung beras negeri ini. Pada waktu bersamaan, masih di negeri ini, bencana kekeringan mengancam warga Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 31.000 keluarga di 56 desa kabupaten tersebut terancam kelaparan menyusul kegagalan panen seluas 80.000 hektare sawah tadah hujan dan jagung pada musim tanam 2009/2010.

Bukan hanya berhenti di situ, pada pertengahan hingga akhir Mei lalu, saat musim kemarau seharusnya sudah tiba, banjir besar justru melanda beberapa daerah. Salah satu di antaranya daerah di sepanjang DAS Bengawan Solo, seperti Kabupaten Bojonegoro, Ngawi, dan sekitarnya. Peringatan siaga satu terpaksa disampaikan kepada masyarakat karena air Bengawan Solo meluap.

Antroposentrisme

Belum lama berselang Perserikatan Bangsa-Bangsa pernah memublikasikan laporan bertajuk Bersama Memerangi Dampak Perubahan Iklim dalam Sebuah Dunia yang Terpenggal. Laporan tersebut, antara lain, menyatakan bahwa aktivitas manusia merupakan penyebab utama perubahan iklim. Atas nama pembangunan ekonomi, atas nama perang terhadap kemiskinan, masyarakat menjadi sangat permisif terhadap tindak perusakan lingkungan.

Pendekatan pembangunan yang kita tempuh selama ini telah menyebabkan hancurnya sebagian besar hutan alami (original forest), mengeringnya setengah lahan basah dunia, menguras tiga perempat dari seluruh stok ikan, serta memancarkan begitu banyak gas panas yang menyebabkan pemanasan bumi. Pendekatan pembangunan yang kita tempuh tersebut telah mempercepat laju kepunahan berbagai spesies seribu kali lebih cepat dari kondisi normal (http://www.unep.org).

Sebuah literatur menyebutkan bahwa laju perusakan hutan (deforestasi) di republik ini besarnya ekuivalen dengan enam kali luas lapangan sepak bola per menit. Deforestasi yang berlangsung masif tersebut telah mengakibatkan lebih dari 59,3 juta hektare hutan kita rusak berat. Keanekaragaman hayati (biodiversity) yang selalu kita banggakan hanya tinggal kidung kenangan.

Masifnya laju deforestasi tersebut tidak lepas dari paham antroposentrisme yang telah merasuk jauh pada pola hidup masyarakat kita. Menurut filsuf Aristoteles, paham antroposentrisme ini memandang bahwa tumbuh-tumbuhan dan tanaman di bumi ini disediakan untuk binatang, dan binatang disediakan untuk manusia. Cara pandang seperti ini telah menempatkan alam sebagai sumber eksploitasi, manusia berlomba-lomba menaklukkan dan mendominasi alam.

Semestinya kita renungkan kembali konsep ekologi-dalam (deep ecology) yang diperkenalkan Fritjof Capra (2001). Dengan arif Fritjof Capra mengingatkan bahwa dunia ini bukanlah kumpulan objek-objek yang terpisah, tetapi lebih merupakan satu kesatuan jaringan yang saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain secara fundamental. Karena itu, sudah semestinya pembangunan dilaksanakan tanpa ada yang dirugikan, baik manusia maupun alam. Pembangunan untuk kesejahteraan manusia dijalankan secara berkelanjutan tanpa harus merusak alam.

Adaptasi

Bagaimanapun kita harus melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim di berbagai sendi kehidupan. Salah satu sektor yang paling merasakan dampak negatif perubahan iklim ini adalah sektor pertanian. Perilaku iklim yang sulit diprediksi ini akan membawa kerugian finansial yang sangat tinggi bagi para petani. Greenomics Indonesia pernah memproyeksikan besarnya kerugian yang diderita petani di Jawa akibat perubahan iklim mencapai Rp 136,2 triliun per tahun (Greenomics Indonesia, 2008).

Jika tidak ada inovasi teknologi produksi yang signifikan, pada 2020 nanti sistem produksi pertanian akan membutuhkan 17 persen air lebih banyak daripada yang sekarang (66 persen). Karena itu, riset teknologi pertanian harus mengupayakan benih tanaman pangan yang selain mampu berproduksi tinggi, berumur genjah, namun juga harus mampu beradaptasi dengan baik pada kondisi tanah dan iklim suboptimal (terutama tahan genangan, kekeringan, dan salinitas tinggi).

Berbagai macam benih berumur genjah yang umumnya masih dalam bentuk galur-galur benih perlu segera dirilis dan diintroduksikan kepada masyarakat menyusul varietas yang selama ini sudah ada, seperti varietas Inpari dan Silugonggo. Begitu pula benih padi tahan genangan, tahan kekeringan, serta varietas toleran salinitas tinggi.

Perbaikan cara dan waktu pengolahan tanah dan pengelolaan irigasi juga perlu perbaikan. Selama ini umumnya petani baru melakukan pengolahan tanah ketika air sudah melimpah. Untuk mengejar musim tanam, sawah harus diolah secepat mungkin dengan cara mekanisasi.

Penyebaran informasi prakiraan iklim hingga ke daerah, pemetaan wilayah rawan kering dan banjir, pemahaman terhadap informasi prakiraan iklim/musim, serta penguatan sistem kelembagaan petani dalam penyampaian informasi prakiraan iklim, perlu dilakukan dengan serius. Melalui berbagai upaya adaptasi ini diharapkan kita mampu merajut kembali masa depan dalam satu planet bumi yang telah sarat beban ini.

*) Toto Subandriyo, alumnus IPB dan MM-Unsoed, kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kab. Tegal, Jateng.


>>> opini@jawapos.co.id Sabtu, 5 Juni 2010
Read more

Kubu Bibit dan Chandra Siapkan Pembelaan dan Alat Bukti

Muncul Wacana SKPP Jilid II

JAKARTA - Kejaksaan Agung hingga kini belum menentukan sikap atas pembatalan surat ketetapan penghentian penuntutan (SKPP) terhadap Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah. Namun, tim kuasa hukum dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu sudah berancang-ancang menghadapi kemungkinan terburuk jika Kejagung memilih melanjutkan perkara dugaan pemerasan tersebut ke meja pengadilan.

Saat ini tim kuasa hukum yang terdiri atas enam orang, yakni Taufik Basari, Bambang Widjojanto, Iskandar Sonhaji, Alexander Lay, Ahmad Rifai, dan Abdul Fikar Fajar, tersebut menyiapkan bahan untuk pembelaan. "Saat ini kami mempersiapkan berkas pembelaan dan alat bukti," papar Ahmad saat dihubungi kemarin (5/6).

Meski bola kemenangan masih berada di kubu Anggodo Widjojo, menurut Ahmad, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebab, ada beberapa kejanggalan dalam perkara yang menjerat Bibit-Chandra itu. Salah satunya, Bibit maupun Chandra tidak pernah diperiksa penyidik Polri atau dijadikan sebagai tersangka upaya pemerasan. "Sehingga, itu janggal. Kenapa tiba-tiba hal tersebut dikaitkan dengan apa yang dilakukan oleh Anggodo?"ujarnya.

Karena itu, Ahmad menilai, hakim yang memutus perkara banding SKPP tersebut telah melampaui batas kewenangan ketika memeriksa perkara praperadilan Anggodo. "Itu adalah salah satu kesalahannya," imbuhnya.

Ahmad optimistis terhadap alasan sosiologis yang digunakan sebagai dasar untuk mengeluarkan SKPP. Alasan itu memungkinkan dilakukannya deponering. "Alasan tersebut memungkinkan jaksa untuk melakukan deponering. Itulah kenapa saya bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan," tegasnya.

Sebelumnya, Chandra menyatakan menunggu putusan atau sikap lain presiden. Dia juga menuturkan bahwa dirinya bukanlah pihak yang harus membuktikan kebenaran perkara tersebut. "Itu adalah tugas kejaksaan. Tugas saya adalah membantah dakwaan yang diajukan jaksa," paparnya di gedung KPK kemarin (5/6).

Terpisah, pakar hukum pidana Universitas Indonesia Rudy Satrio Mukantardjo mempuyai pemikiran lain soal kasus itu. Jika beberapa kalangan meminta kejaksaan menempuh deponering, Rudi malah mengimbau korps adhyaksa itu mengeluarkan SKPP jilid II. "Itu sah, diatur dalam undang-undang," ucapnya saat dihubungi.

Dia menerangkan, SKPP jilid II tersebut bisa diajukan dengan pertimbangan kurang bukti. "Kan sampai sekarang belum ada bukti bahwa Ari Muladi menyerahkan uang itu dengan perantara Yulianto," papar dia. Jadi, selama tidak ada alat bukti yang kuat, SKPP jilid II "aman" meski juga dipraperadilankan.

Bila deponering ditempuh, di mata kejaksaan justru Bibit-Chandra bersalah. Selain itu, tidak mudah mengeluarkan deponering. Sebab, sebelumnya kejaksaan harus membuktikan bahwa kasus tersebut benar-benar berdampak pada aspek sosial masyarakat. Jika begitu, harus ada penentuan terlebih dulu. "Itulah yang tidak mudah. DPR pun punya kewenangan untuk menggali, apakah kasus tersebut memang berdampak atau tidak," terang dia.

Sementara itu, Eggy Sudjana, salah seorang kuasa pemohon praperadilan SKPP yang ditolak PN Jaksel, mendesak agar kejaksaan melimpahkan perkara Bibit-Chandra ke pengadilan. "Putusan itu sudah final. SKPP ditolak," tegasnya kemarin.

Soal wacana mengeluarkan deponering, menurut Eggy, hal tersebut tidak bisa dilakukan. Alasannya, SKPP dan deponering merupakan pilihan hukum. "Dulu yang dipilih adalah SKPP. Kalau mau deponering, kenapa tidak sejak dulu?" urai pengacara yang mewakili tiga LSM saat menggugat praperadilan SKPP Bibit-Chandra itu. (ken/kuh/fal/c11/iro)

jawapos.co.id minggu,6 juni 2010
Read more

Murid Beraksi, Guru Ogah Kalah

Serunya Road Show di SMPN 22 Surabaya

SURABAYA - Publik Surabaya tak sabar menanti hadirnya even basketball lifestyle kelas dunia, NBA Madness presented by Jawa Pos. Hal itu terlihat dalam acara road show di SMPN 22 Surabaya kemarin (5/6). Sejak sebelum acara dimulai, para siswa dan guru antusias mengerubungi venue ada di lapangan basket.

Begitu acara dimulai pukul 09.00, beberapa siswa berteriak kegirangan dan merapat ke venue. Mereka bersemangat untuk berpartisipasi dalam permainan interaktif kelas dunia tersebut.

Ada tiga permainan yang disajikan. Yaitu, Platinum Skills Challenge, Honda Matic Shooting Stars, dan NBA Free Throw Conga. Para guru dan beberapa murid yang beruntung mendapatkan kesempatan menjajal games interaktif tersebut.

Salah seorang di antaranya adalah Ahmad Dwipa. Siswa kelas IX itu berkesempatan menjajal tiga games yang disediakan. ''Ini kesempatan yang jarang. Makanya, pengin ngerasain semua games yang ada,'' ungkapnya.

Setelah menyelesaikan tiga permainan, Dwipa mendapatkan sejumlah suvenir. ''Wah, lumayan banget. Dapat topi, mok, bolpoin, dan kaus,'' kata kapten tim basket SMPN 22 itu.

Para guru pun tak mau kalah. Dua orang guru, yakni Catur Budi Wirjono dan Achmad Yani, ikut mengantre untuk menjajal permainan. ''Malu dong kalah sama murid. Kami sebagai guru harus bisa memberikan contoh,'' ujar Catur, guru olahraga.

Meski tak setangkas para murid, aksi kedua guru itu mendapatkan tepuk tangan meriah ketika tampil pada permainan Honda Matic Shooting Stars. ''Faktor usia ternyata tak bisa dibohongi,'' ungkap Achmad Yani diikuti tawa. Karena merasa fun dan terhibur, guru matematika itu akan sangat senang jika setiap tahun acara serupa bisa dilangsungkan di sekolahnya.

Kemeriahan acara road show berlanjut hingga acara berkahir. Puluhan siswa secara antusias mendaftar untuk berpartisipasi di acara NBA Madness presented by Jawa Pos. Sebagian besar di antara mereka tertantang untuk mencoba Platinum Skills Challenge.

''Games itu (Platinum Skills Challenge, Red) perpaduan beberapa unsur dasar basket. Jadi, ada unsur 'happy-happy' dan olahraganya,'' beber Shalisyah Ahnor, siswi kelas VIII. Dia juga mendaftar di permainan Honda Matic Shooting Stars.

NBA Madness presented by Jawa Pos akan hadir di Atrium Tunjungan Plaza 3 pada 10-13 Juni dan 17-20 Juni. Denver Nuggets Dance Team, salah satu grup dance terbaik di NBA, akan datang pada 10-13 Juni.

Kemegahan acara tersebut bakal berlanjut di Supermal Pakuwon Indah. Pada pekan ketiga (24-27 Juni), NBA Madness presented by Jawa Pos menghadirkan Hugo, maskot New Orleans Hornets. Puncak dari even ini adalah kehadiran bintang Houston Rockets Trevor Ariza pada pekan penutup, 1-4 Juli mendatang. (dra/c4/ca)

http://www.jawapos.co.id Minggu 6 Juni 2010
Read more

Cedera Parah, Valentino Rossi Absen di Grand Prix Italia



Kali Pertama Absen sejak Awali Karir pada 1996

MUGELLO - Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Sehebat dan seberuntung karir seorang Valentino Rossi akhirnya harus terganjal pula oleh cedera.

Bintang utama MotoGP dan Fiat Yamaha, Valentino Rossi, bakal absen di Grand Prix Italia, di Sirkuit Mugello, hari ini (6/6). Dia mengalami cedera cukup parah setelah jatuh dalam babak latihan terakhir sebelum kualifikasi, Sabtu kemarin (5/6).

Sulit dipercaya, ini adalah yang pertama Rossi dipaksa absen lomba. Sejak debutnya di kelas 125 cc pada 1996, belum sekali pun pembalap Italia itu absen balapan!

Tapi, kali ini, pembalap berjulukan The Doctor itu harus rajin bertemu dengan dokter kalau ingin karirnya berlanjut lancar.

Dalam babak latihan terakhir pagi kemarin, Rossi sebenarnya tidak perlu terlalu memaksakan diri. Pada latihan pertama Jumat lalu (4/6), dia sudah mencatat waktu tercepat. Selisih waktunya dengan pembalap yang lain pun cukup nyaman.

Namun, saat sesi latihan hanya tersisa 15 menit, motornya mengentak ke udara di tikungan S Biondetti. Rossi terpelanting, lantas mendarat dengan kaki kanan duluan. Setelah itu, dia tampak kesakitan, terus memegangi kaki kanan tersebut. Petugas harus menandunya keluar dari lintasan.

Setelah pemeriksaan di medical center sirkuit, diketahui Rossi mengalami cedera cukup parah. "Valentino Rossi mengalami patah tulang tibia sebelah kanan." Begitu pernyataan Yamaha. "Rossi tidak akan berpartisipasi di kelanjutan Grand Prix Italia," tutup pernyataan tersebut.

Menurut laporan Autosport, Rossi dibawa ke Central Traumatological Hospital di Florence untuk menjalani operasi di bawah penanganan Dr Roberto Uzzi. Sebelumnya, dia sempat dibawa ke Careggi Hospital di kawasan Florence.

Cedera tersebut sangat mungkin juga akan memaksa Rossi untuk absen dalam beberapa lomba selanjutnya. Biasanya, masa pemulihan cedera itu disebut sampai dua bulan. Tapi, beberapa pembalap pernah sembuh setelah 40 hari.

Andai cepat pun, sangat mungkin Rossi bakal absen hingga empat lomba ke depan (termasuk di Mugello). Bisa juga lebih. Sebab, bulan ini saja bakal diselenggarakan tiga lomba. Total, termasuk GP Italia akhir pekan ini, ada enam lomba yang diselenggarakan hingga 25 Juli mendatang.

Kalau sampai absen minimal empat lomba, sangat mungkin Rossi harus meng-kiss goodbye harapannya untuk menjadi juara dunia 2010, menunda meraih gelar kesepuluh dalam karirnya. Saat ini saja, dia sudah tertinggal di belakang rekan setim, Jorge Lorenzo, yang telah memenangi dua di antara tiga lomba pertama 2010.

Hanya 70 Persen

Sebenarnya, kondisi Rossi di Mugello tidaklah 100 persen. Pembalap 31 tahun itu sendiri bilang kondisinya maksimal hanya 70 persen. Sebelumnya, sejak April lalu, dia mengalami cedera bahu gara-gara jatuh saat latihan motocross. Bahkan, seharusnya, dia juga menjalani operasi bahu ketika musim 2010 berakhir nanti.

"Cedera (bahu) ini butuh 3,5 bulan untuk sembuh. Sekarang baru 1,5 bulan berlalu," katanya sebelum GP Italia, seperti dilansir Gazzetta dello Sport. "Tulang bahu saya tidak pada posisi yang benar. Ini cedera terburuk dalam karir saya," ucapnya lagi.

Kemarin, cedera lebih parah lagi dialami Rossi. Kaki kanannya patah.

Rossi mengaku memaksakan diri karena tidak ingin peluang jadi juara dunia hilang. Selain itu, dia tidak ingin mengecewakan penggemar Italia. Rossi ingin menunjukkan penampilan terbaik di hadapan publik sendiri, di Sirkuit Mugello. Tapi, sekarang, dia justru hanya bisa menonton lomba dari layar kaca di rumah sakit.

Penggemar Rossi di seluruh dunia tentu akan merindukan penampilannya. Apalagi dia selama ini memang tidak pernah absen. Semoga lekas sembuh Rossi agar dapat berjuang lagi merebut kemenangan dan memuaskan semua penggemarmu! (c1/aza)
http://www.jawapos.co.id Minggu, 06 Juni 2010
Read more
Saturday, June 5, 2010 | 6:07 AM | 0 Comments

Hindari Makan Menjelang Jam Tidur

VIVAnews - Selalu makan pada waktu yang sama setiap harinya dan hindari makan saat jam tidur, jika tidak ingin bobot tubuh meningkat. Karena, penelitian dari Northwestern University, Amerika Serikat menemukan makan tidak teratur bisa memicu peningkatan berat badan.

Peneliti juga mengatakan sebuah kesalahan besar makan di tengah malam, ketika tubuh ingin tidur. Hal itu dapat menggangu ritme circadian (suatu ritme perubahan fungsi-fungsi tubuh individu yang terjadi dalam waktu 24 jam) saat tidur.

"Alasan mengapa berat badan seseorang bisa meningkat, cukup rumit. Tetapi, sangat jelas pertimbangan bukan hanya kalori yang masuk tetapi juga yang keluar," kata Fred Turek, profesor neurobiologi dan psikologi, seperti dikutip dari Times of India.

"Kami pikir ada beberapa faktor yang di bawah kontrol circadian. Waktu makan yang lebih tepat dan baik, dapat menjadi elemen penting dalam memperlambat atau mengurangi risiko obesitas," katanya.

Selama penelitian, para ilmuwan mengamati tikus yang diberi makanan tinggi lemak selama jam tidur, berat badannya meningkat signifikan. Hal itu dibandingkan dengan tikus yang diberi makanan yang sama tetapi bukan pada jam tidur.

"Salah satu fokus penelitian kami adalah pekerja shift, yang cenderung kelebihan berat badan. Jadwal memaksa mereka untuk makan di saat yang bertentangan dengan irama alami tubuh," kata Deanna M. Arble, salah satu peneliti. (pet)
Read more
 
Copyright Blog Pribadi-Ku © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.